Menu

LOMBA MEMBACA PUISI PROKLAMATOR

 

KRITERIA

  1. Lomba Membaca Puisi diikuti oleh peserta didik Sekolah Dasar (SD) Kelas V/VI se-Kota Denpasar.
  2. Masing-masing Kecamatan mengirimkan dutanya sebanyak 6 orang.
  3. Peserta Lomba boleh laki-laki maupun perempuan
  4. Lomba akan diselenggarakan pada hari Jumat, tanggal 11 Juni 2021
  5. Peserta wajib mengisi formulir pendaftaran yang disediakan oleh panitia.
  6. Peserta wajib melakukan pendaftaran kembali sebelum perlombaan berlangsung.
  7. Peserta Wajib hadir 15 menit sebelum lomba dimulai.
  8. Peserta wajib membawakan 1 buah puisi tentang proklamator
  9. Naskah/materi puisi disediakan oleh panitia, peserta dapat memilih salah satu dari puisi yang disiapkan.
  10. Adapun aspek penilaian oleh Dewan Juri meliputi :
    • Penilaian Vokal (power suara)/ Wirama/Irama/Suara
    • Penghayatan/Ekspresi/Penjiwaan/Wirasa
    • Penampilan/Pembawaan/Wiraga
    • Peserta diperbolehkan menampilkan kreatifitas dalam pembacaan \
    • Puisi selama itu dapat membantu dan menunjang penampilan peserta
    • Peserta dapat membawa alat pendukung sederhana yang dapat mendukung penampilan peserta dan tidak mengurangi makna puisi.
  11. Lomba akan diselenggarakan secara langsung bertempat di Gedung Dharma Negara Allaya (DNA) Lumintang Kota Denpasar
  12. Pengumuman akan dilaksanakan setelah seluruh peserta membacakan puisinya 
  13. Juri adalah orang-orang yang berkompeten di bidangnya/seniman
  14. Keputusan Dewan Juri bersifat mutlak tidak dapat diganggu gugat.
  15. Juri akan memilih Juara I,II,III,Harapan I,II,dan III.
  16. Pemenang Lomba akan  menerima piala,piagam dan uang pembinaan
  17. Para Peserta Lomba wajib mematuhi Protokol Kesehatan (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak/tidak berkerumun)
  18. Peserta tidak diperbolehkan mengajak pendukung/pengantar melebihi ketentuan panitian(peserta hanya didampingi oleh seorang guru pendamping )

 

MATERI LOMBA PUISI

PUISI KARYA BUNG KARNO

 

Sejarahlah yang Akan Membersihkan Namaku

Dengan setiap rambut di tubuhku

aku hanya memikirkan tanah airku

Dan tidak ada gunanya bagiku

melepaskan beban dari dalam hatiku

kepada setiap pemuda yang datang kemari

aku telah mengorbankan untuk tanah ini

Tidak menjadi soal bagiku

apakah orang mencapku kolaborator

Aku tidak perlu membuktikan kepadanya

atau kepada dunia, apa yang aku kerjakan

Halaman-halaman dari revolusi Indonesia

akan ditulis dengan darah Sukarno

Sejarahlah yang akan membersihkan namaku

(dari buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat”, hlm. 304)

 

 

Menggerakkan Tenaganya

 

Diberi hak-hak atau tidak diberi hak

Diberi pegangan atau tidak diberi pegangan

Diberi penguat atau tidak diberi penguat

Tiap-tiap makhluk

Tiap-tiap makhluk

Tiap-tiap umat

Tiap-tiap bangsa tidak boleh tidak

Pasti akhirnya bangkit

Pasti akhirnya bangun

Pasti akhirnya menggerakkan tenaganya

Kalau ia sudah terlalu sekali merasakan

celakanya diri oleh suatu daya angkara murka!

Jangan lagi manusia

Jangan lagi bangsa

Walau cacing pun tentu berkeluget-keluget

kalau merasa sakit!

(dari buku “Indonesia Menggugat”, hlm. 62)

 

 

Kami Bukan Bangsa yang Pandir

Ada sebabnya aku mengadakan perlawatan ini

aku ingin agar Indonesia dikenal orang

Aku ingin memperlihatkan kepada dunia

bagaimana rupa orang Indonesia

Aku ingin menyampaikan kepada dunia

bahwa kami bukan “Bangsa yang Pandir”

seperti orang Belanda berulang-ulang

mengatakan kepada kami

Bahwa kami bukan lagi

“Inlander goblok hanya baik untuk diludahi”

seperti Belanda mengatakan kepada kami berkali-kali

Bahwa kami bukan lagi

penduduk kelas kambing yang berjalan

menyuruk-nyuruk dengan memakai sarung dan ikat kepala

merangkak-rangkak seperti yang dikehendaki

oleh majikan-majikan kolonial di masa silam

(dari buku “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat”, hlm. 8)

 

 

 

Sinar Itu Dekat

Jikalau kita insyaf

bahwa kekuatan hidup itu

letaknya tidak dalam menerima

tetapi dalam memberi

Jikalau kita semua insyaf

bahwa dalam percerai-beraian itu

letaknya benih perbudakan kita;

Jikalau kita semua insyaf

bahwa permusuhan itulah yang menjadi

asal kita punya “via dolorosa”

Jikalau kita insyaf

bahwa roch rakyat kita masih penuh

kekuatan untuk menjunjung diri

menuju Sinar yang satu

yang berada di tengah-tengah kegelapan gulita

yang mengelilingi kita ini

pastilah persatuan itu terjadi

dan pastilah Sinar itu tercapai juga

Sebab Sinar itu dekat

(dari buku “Di Bawah Bendera Revolusi I”, hlm. 23)

 

 

 

Janganlah Menjadi Politikus Salon

Janganlah menjadi politikus salon!

Lebih dari separo

politisi kita adalah politisi salon

yang mengenal Marhaen

hanya dari sebutan saja.

Apakah orang mengira dapat

menyelesaikan revolusi sekarang ini

meski tingkatannya

tingkatan nasional sekalipun

tidak dengan rakyat murba

Politikus yang demikian itu

sama dengan seorang jenderal

yang tak bertentara

Kalau ia memberi komando

dia seperti orang berteriak di padang pasir

Tetapi betapakah orang dapat menarik rakyat jelata

Jika tidak terjun di kalangan mereka

mendengarkan kehendak-kehendak mereka

menyadarkan mereka akan diri sendiri

membuat revolusi ini revolusi mereka?

 

(dari buku “Sarinah”, 1947 hal. 229-230)

 

Dimakan Api Unggun

Saya merasa

diri saya sebagai

sepotong kayu

dalam satu gundukan kayu api unggun

sepotong dari pada ratusan

atau ribuan kayu di dalam api unggun besar

saya menyumbangkan sedikit

kepada nyala api unggun itu

tetapi sebaliknya

saya dimakan oleh api unggun itu!

Dimakan apinya api unggun

(dari buku “Tragedi Bung Karno” Pustaka Simponi 1978)

 

 

Ir. Soekarno

Karya: Fatkhan .T.Haqque

Keras Suara Menebus raga

Bentak Mengharu menghapus pilu

Sontak Merayu bangkitkan serdadu

Berjuang membela hak dari rakyatmu

Janjimu Indonesia Satu

Bukan hanya Jakarta, melainkan papua juga

Satukan bahasa, wujudkan cita rasa

Kencangkan ikat kepala, kalungkan senjata

Dengan kertas mereka tak mengerti

Dengan bedil kau coba atasi

Ketakutan, kau dibuang diasingkan

Keberanian, leburkan keraguan diri

Proklamasi bukti perjuangan

Kedaulatan kemerdekaan NKRI

Semangat leburkan penderitaan

Padamu negeri  bangsa menyanyi

Kau baca kata-kata merdeka

Kau sebut Indonesia Raya

Kau bakar semangat rakyat jelata

Kau kibarkan cita bendera bangsa

 

 

 

 

 

MATERI PUISI-PUISI PERJUANGAN

 

AKU

Karya : Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan akan akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

 

 

KERAWANG BEKASI

Karya : Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu


Kenang, kenanglah kami

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa

Kami cuma tulang-tulang berserakan


Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan

Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang-kenanglah kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayat

Berilah kami arti
Berjagalah terus di garsi batas pernyataan dan impian

Kenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

 

 

 

 

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Karya : Chairil Anwar

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh


 

GERILYA

Oleh : W.S. Rendra

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling di jalan

Angin tergantung
terkecap pahitnya tembakau
bendungan keluh dan bencana

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan

Dengan tujuh lubang pelor
diketuk gerbang langit
dan menyala mentari muda
melepas kesumatnya

Gadis berjalan di subuh merah
dengan sayur-mayur di punggung
melihatnya pertama

Ia beri jeritan manis
dan duka daun wortel

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan

Orang-orang kampung mengenalnya
anak janda berambut ombak
ditimba air bergantang-gantang
disiram atas tubuhnya

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan

Lewat gardu Belanda dengan berani
berlindung warna malam
sendiri masuk kota
ingin ikut ngubur ibunya

 

 

 

Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini

(Taufik Ismail) 1966

Tidak ada pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Karena berhenti atau mundur

Berarti hancur

Apakah akan kita jual keyakinan kita

Dalam pengabdian tanpa harga

Akan maukah kita duduk satu meja

Dengan para pembunuh tahun yang lalu

Dalam setiap kalimat yang berakhiran

Duli Tuanku ?¡

Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan

Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh

Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara

Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama

Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka

Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan

Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus.


FORMULIR PENDAFTARAN

 

  1. NAMA                   :         
  2. ALAMAT                :        
  3. ASAL SEKOLAH      :     
  4. TTL                      :   
  5. UMUR                   :  
  6. KELAS                   : 
  7. TELP SEKOLAH       :
  8. TELP PESERTA       :
  9. CABANG LOMBA     :
  10. KECAMATAN          :

 

                                                                   Denpasar,………

Panitia Pendaftaran                                          Yang Mendaftar

 

(                                )                                       (                            )

 

CP :  1.

        2.

        3.